Bogor — Pagi di Jogjogan selalu dimulai dengan langkah-langkah kecil yang bergegas menuju gerbang SDN Jogjogan 01. Suara tawa anak-anak bersahutan, mengisi udara yang masih segar sebelum pelajaran dimulai.
Nur Anisa (10), siswa kelas 5, datang dengan semangat yang sama setiap hari. Seragamnya rapi, tas tergantung di bahu, dan senyum yang nyaris tak pernah absen dari wajahnya.
Seperti siswa lainnya, ia mengikuti pelajaran sejak pagi. Namun, ada satu momen yang diam-diam selalu ia tunggu. Saat waktu istirahat tiba.
Di waktu itulah, Nur Anisa dan teman-temannya berkumpul. Kotak makanan dibuka, aroma hidangan hangat mulai terasa, dan obrolan ringan pun mengalir begitu saja.“Senang bisa makan bareng teman-teman,” katanya.
Momen makan siang menjadi lebih dari sekadar jeda dari pelajaran. Ia adalah ruang kebersamaan, tempat anak-anak berbagi cerita, tertawa, dan menikmati waktu bersama.
Menu yang berganti setiap hari juga menambah rasa antusias. Bagi Nur Anisa, ada keseruan tersendiri dalam menunggu dan mencoba hidangan yang berbeda.
Di balik itu, ia merasakan perubahan dalam kesehariannya. Dengan asupan yang cukup, ia menjadi lebih berenergi dan mampu mengikuti pelajaran dengan lebih baik.“Jadi lebih semangat belajar,” ujarnya.
Para guru di sekolah pun melihat hal yang sama. Anak-anak tampak lebih fokus, lebih aktif, dan memiliki energi yang cukup hingga pelajaran berakhir.
Bagi Nur Anisa, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program. Ia telah menjadi bagian dari rutinitas yang membuat hari-hari di sekolah terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Dengan suara pelan namun penuh harap, ia menyampaikan keinginannya.“Semoga MBG terus ada.”
Sebuah harapan sederhana, yang lahir dari pengalaman sehari-hari. Di SDN Jogjogan 01, di antara tawa dan kebersamaan anak-anak, sepiring makanan menjadi lebih dari sekadar asupan, ia menjadi bagian dari semangat yang tumbuh, pelan namun pasti, dalam perjalanan mereka menuju masa depan.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional



















Komentar