JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terus memperkokoh posisinya sebagai incaran utama investor, baik domestik maupun mancanegara. Di tengah dinamika pasar modal dan aksi jual bersih (net sell) yang sempat melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), saham BBRI terbukti tangguh dengan mencatatkan akumulasi beli bersih (net buy) yang signifikan, disokong oleh rekapitulasi kinerja keuangan semester I 2026 yang kian solid.
Pada perdagangan saham Senin (31/8/2026), IHSG ditutup menguat tipis 7 poin (0,11%) ke posisi 6.525. Kendati investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp710,56 miliar di pasar reguler, saham BBRI justru melaju berlawanan arah. Investor asing diam-diam membukukan net buy terbesar pada saham BBRI senilai Rp371,28 miliar. Tren positif ini mendorong saham BBRI menguat 1,88% hingga ditutup pada level Rp3.250 per lembar saham.
Aksi borong saham BBRI oleh pemodal asing berlanjut pasca- rebalancing indeks MSCI. Pada perdagangan Selasa (1/9/2026), ketika total akumulasi net buy asing di pasar reguler mencapai Rp1,76 triliun, saham BBRI memimpin daftar belanja investor global dengan nilai pembelian fantastis mencapai Rp838,0 miliar. Nilai ini menempatkan BBRI sebagai motor utama kebangkitan saham sektor perbankan (big banks).
Derasnya arus modal masuk ke BBRI sejatinya sejalan dengan fundamental perseroan yang terus menunjukkan perbaikan drastis pada paruh pertama tahun ini (1H26). Berdasarkan analisis riset Kiwoom Sekuritas, BBRI berhasil mengantongi laba bersih (PATMI) sebesar Rp30,9 triliun atau tumbuh 17,5% secara tahunan (Year-on-Year/YoY).
Pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang oleh Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) yang naik 9,9% YoY menjadi Rp80,5 triliun, serta Pre-Provisioning Operating Profit (PPOP) yang melesat 12,8% YoY menjadi Rp65,7 triliun. Keberhasilan ini juga didukung oleh efisiensi operasional (cost control) yang sangat disiplin, di mana beban operasional hanya tumbuh tipis 0,7% YoY.
Dari sisi penyaluran kredit, BRI mengukuhkan pertumbuhan total kredit sebesar 16,2% YoY menjadi Rp1.645,5 triliun, yang didominasi oleh portofolio segmen korporasi dan komersial yang tumbuh hingga 58,1%. Seiring pencapaian tersebut, manajemen merevisi naik panduan (guidance) pertumbuhan kredit untuk keseluruhan tahun (FY26) menjadi 8%–10%.
Selain itu, kualitas aset BBRI tercatat semakin sehat. Rasio kredit bermasalah (Gross NPL) turun menjadi 2,90% dari sebelumnya 3,04%, sementara Loans at Risk (LaR) membaik signifikan ke angka 9,15% dari sebelumnya 10,8%. Biaya kredit (Credit Cost) juga berhasil ditekan menjadi 3,08%. Pada saat yang sama, struktur pendanaan semakin efisien dengan rasio dana murah (Current Account Saving Account/CASA) yang naik menjadi 67,6% dan biaya dana (Cost of Funds) yang turun ke tingkat 2,4%.
Analis dari Kiwoom Sekuritas menilai bahwa kombinasi dari pemulihan segmen mikro, perbaikan kualitas aset, serta efisiensi pendanaan menjadi katalis utama bagi daya tarik investasi BBRI di mata investor.
”BBRI mencatat kinerja 1H26 yang solid dengan pertumbuhan laba, funding efficiency, dan kualitas aset yang membaik. Peningkatan disbursement serta membaiknya beberapa indikator kualitas aset menjadi sinyal positif bagi prospek pertumbuhan perseroan ke depan,” tulis analisis Kiwoom Sekuritas.
Dengan fondasi keuangan yang kuat dan kepercayaan investor global yang terus mengalir, BBRI optimis mampu menjaga momentum pertumbuhan berkelanjutan sekaligus mencapai target parameter kunci FY26, termasuk menjaga margin bunga bersih (NIM) di kisaran 7,4%–7,8% serta Cost to Income Ratio (CIR) pada level 41%–43%.
(Red)























Komentar