MELAWI, Kalbar – Penjelasan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Melawi terkait munculnya tayangan bermuatan pornografi di videotron milik Pemerintah Kabupaten Melawi di kawasan Tugu Naruto, KM 3, Nanga Pinoh, justru memunculkan gelombang pertanyaan baru dari masyarakat.
Alih-alih meredam polemik, pernyataan yang menyebut insiden tersebut diduga akibat peretasan (hack) terhadap akun pengelola dinilai sejumlah warga belum disertai penjelasan teknis yang memadai. Publik mempertanyakan dasar kesimpulan tersebut sekaligus meminta pemerintah membuka fakta secara transparan agar tidak menimbulkan spekulasi.
Peristiwa yang sempat viral di media sosial itu menjadi sorotan karena tayangan tidak pantas tersebut muncul di ruang publik yang setiap hari dilalui masyarakat, termasuk anak-anak. Warga menilai insiden ini bukan sekadar persoalan gangguan sistem, melainkan juga menyangkut tanggung jawab pengawasan terhadap aset pemerintah.
“Kalau memang benar akun pengelola diretas, mengapa aksesnya tidak segera diputus atau sistem langsung diamankan? Justru yang terlihat adalah adanya celah pengawasan dan lambannya respons terhadap insiden tersebut,” ujar salah seorang warga kepada Tim Awak Media Ini, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, alasan “diretas” tidak boleh dijadikan jawaban akhir sebelum dilakukan audit digital secara menyeluruh. Sebab, setiap dugaan peretasan semestinya dapat ditelusuri melalui jejak log sistem, waktu akses, alamat IP, hingga prosedur penanganan insiden yang dilakukan pengelola.
Masyarakat juga meminta Diskominfo menjelaskan secara terbuka bagaimana mekanisme pengamanan videotron tersebut, siapa pihak yang memiliki akses administrasi, kapan insiden pertama kali diketahui, serta berapa lama konten tersebut sempat tayang sebelum dihentikan.
Di sisi lain, insiden ini dinilai menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem keamanan siber di lingkungan Pemerintah Kabupaten Melawi. Fasilitas publik yang menampilkan informasi kepada masyarakat seharusnya memiliki standar pengamanan berlapis, pengawasan aktif selama 24 jam, serta prosedur tanggap darurat yang mampu mencegah penyalahgunaan tampilan layar.
Warga berharap aparat penegak hukum maupun pihak berwenang melakukan penyelidikan secara profesional guna memastikan penyebab sebenarnya, apakah benar terjadi peretasan, adanya kelalaian dalam pengelolaan sistem, atau faktor lain yang harus dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan hukum.
Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat masih menunggu penjelasan resmi yang lebih rinci, berbasis hasil pemeriksaan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Publik menilai keterbukaan informasi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan peristiwa serupa tidak kembali terulang.
Tim Redaksi
Suaraupdate.com//
Editor : Decky Menziano
Konten Pornografi Tayang di Videotron Pemda Melawi, Alasan “Diretas” Dipertanyakan Publik























Komentar