oleh

Bergerak dan Berpindah : Membaca Potret Migrasi Indonesia

-Ekonomi-469 Dilihat

Jakarta, — Badan Pusat Statistik (BPS) melalui publikasi Profil Migran 2025 menyajikan gambaran mengenai mobilitas penduduk Indonesia berdasarkan pola perpindahan antarprovinsi dan karakteristik migran. Publikasi ini memuat sejumlah indikator yang dapat digunakan untuk melihat perbedaan tempat kelahiran dan tempat tinggal penduduk, serta perpindahan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 menunjukkan bahwa sekitar satu dari sepuluh penduduk Indonesia tinggal di provinsi yang berbeda dari provinsi tempat kelahirannya. Data tersebut memberikan gambaran mengenai persebaran penduduk dan dinamika perpindahan yang berlangsung di berbagai wilayah.

Migrasi penduduk dapat dilihat melalui dua indikator, yaitu migrasi seumur hidup dan migrasi risen. Kedua indikator tersebut memiliki cakupan waktu yang berbeda. Migrasi seumur hidup berkaitan dengan perbedaan provinsi tempat lahir dan provinsi tempat tinggal saat pendataan, sedangkan migrasi risen mencermati perpindahan dalam lima tahun terakhir. Penggunaan kedua indikator ini membantu memberikan gambaran yang lebih luas mengenai pola mobilitas penduduk antarprovinsi di Indonesia.

Migrasi seumur hidup merupakan kondisi ketika seseorang tinggal di provinsi yang berbeda dari provinsi tempat ia dilahirkan. Indikator ini menunjukkan pengalaman perpindahan penduduk sepanjang hidupnya, tanpa membatasi kapan perpindahan tersebut berlangsung. Pada periode 2020–2025, persentase migran seumur hidup mengalami fluktuasi, dari 11,2 persen pada 2020 menjadi 9,7 persen pada 2024. Pada 2025, proporsinya kembali meningkat menjadi 10,1 persen. Perubahan tersebut menunjukkan dinamika komposisi penduduk berdasarkan tempat kelahiran dan tempat tinggal saat pendataan.

Perbedaan pola migrasi seumur hidup juga terlihat dari persebaran penduduk antarprovinsi. Kepulauan Riau mencatat persentase migran masuk seumur hidup tertinggi, yakni 43,0 persen. Angka ini berarti sekitar 43 dari setiap 100 penduduk Kepulauan Riau lahir di provinsi lain. Sementara itu, DKI Jakarta mencatat persentase migran keluar seumur hidup tertinggi sebesar 32,4 persen. Angka tersebut menggambarkan proporsi penduduk yang lahir di Jakarta dan kini tinggal di provinsi lain.

Variasi migrasi seumur hidup tampak pula di sejumlah provinsi lainnya. Persentase migran masuk seumur hidup tercatat sebesar 31,7 persen di Kalimantan Timur, 31,2 persen di Kalimantan Utara, dan 30,1 persen di DKI Jakarta. Pada migrasi keluar, DI Yogyakarta mencapai 20,4 persen dan Sumatera Barat sebesar 19,8 persen. Perbedaan angka tersebut memperlihatkan bahwa pola mobilitas penduduk tidak seragam di seluruh wilayah. Setiap provinsi memiliki komposisi penduduk berdasarkan tempat lahir dan tempat tinggal yang berbeda, sebagaimana tercermin dalam indikator migrasi masuk dan migrasi keluar.

Migrasi risen menggambarkan perpindahan penduduk dalam lima tahun terakhir, yaitu ketika provinsi tempat tinggal saat pendataan berbeda dari provinsi tempat tinggal lima tahun sebelumnya. Berbeda dengan migrasi seumur hidup yang mencakup perpindahan kapan pun selama hidup seseorang, indikator migrasi risen memberikan gambaran yang lebih dekat dengan periode perpindahan tertentu. Hasil Susenas Maret 2025 mencatat persentase migran risen sebesar 1,1 persen, atau sekitar satu hingga dua orang dari setiap 100 penduduk. Angka ini meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar 0,9 persen.

Perkembangan migrasi risen selama 2020–2025 menunjukkan perubahan proporsi dari tahun ke tahun. Persentasenya tercatat sebesar 2,0 persen pada 2020 dan mencapai 2,1 persen pada 2021. Angka tersebut kemudian menurun hingga 0,9 persen pada 2024 sebelum kembali naik menjadi 1,1 persen pada 2025. Perubahan ini memperlihatkan bahwa proporsi penduduk yang berpindah provinsi dalam lima tahun terakhir mengalami variasi selama periode pengamatan. Data tersebut dapat menjadi salah satu bahan untuk mencermati perkembangan mobilitas penduduk antarprovinsi dari waktu ke waktu.

Dalam persebaran migrasi risen, Kepulauan Riau dan DKI Jakarta kembali menonjol. Kepulauan Riau mencatat persentase migran masuk tertinggi sebesar 4,5 persen, sedangkan DKI Jakarta memiliki persentase migran keluar tertinggi sebesar 4,2 persen. Kedua indikator tersebut menunjukkan posisi masing-masing provinsi dalam arus perpindahan penduduk selama lima tahun terakhir. Informasi mengenai migrasi masuk dan migrasi keluar dapat digunakan untuk melihat arah perpindahan penduduk pada periode yang lebih terbatas, sekaligus melengkapi gambaran yang diperoleh dari migrasi seumur hidup.

Karakteristik migran risen juga dapat dilihat berdasarkan jenis kelamin. Komposisinya menunjukkan proporsi yang seimbang, yakni 50 persen perempuan dan 50 persen laki-laki. Data ini menggambarkan keterlibatan kedua kelompok dalam mobilitas penduduk dengan porsi yang sama. Informasi tersebut melengkapi gambaran migrasi yang tidak hanya mencakup arah dan rentang waktu perpindahan, tetapi juga profil penduduk yang melakukannya. Pengamatan berdasarkan karakteristik penduduk menjadi bagian penting dalam membaca data migrasi secara lebih menyeluruh.

Tingkat pendidikan menjadi salah satu aspek yang membedakan kelompok migran dan nonmigran. BPS mencatat bahwa 47,5 persen migran telah menamatkan pendidikan SMA/MA atau sederajat ke atas, sedangkan pada kelompok nonmigran angkanya mencapai 34,9 persen. Perbedaan proporsi ini menunjukkan bahwa kelompok migran memiliki komposisi pendidikan yang relatif lebih tinggi dibandingkan kelompok nonmigran. Data tersebut memberikan gambaran mengenai latar belakang pendidikan penduduk yang melakukan perpindahan antarprovinsi dan dapat menjadi bahan untuk memahami karakteristik kedua kelompok.

Informasi mengenai pendidikan juga memperkaya pembacaan terhadap profil migran. Selain melihat jumlah dan arah perpindahan, karakteristik pendidikan membantu menggambarkan komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan yang telah ditamatkan. Perbandingan antara migran dan nonmigran menunjukkan adanya perbedaan proporsi pada kelompok pendidikan SMA/MA atau sederajat ke atas. Meski demikian, angka tersebut menggambarkan komposisi masing-masing kelompok dan tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan seseorang melakukan migrasi.

Pembacaan terhadap indikator tersebut perlu memperhatikan definisi masing-masing ukuran agar perbandingan dilakukan secara tepat. Persentase migrasi seumur hidup tidak sama dengan persentase migrasi risen karena keduanya merujuk pada rentang waktu yang berbeda. Demikian pula, migrasi masuk dan migrasi keluar menunjukkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat perpindahan penduduk. Pemahaman atas perbedaan ini membantu pembaca menafsirkan angka yang disajikan secara proporsional dan sesuai dengan cakupan data.

Secara keseluruhan, publikasi Profil Migran 2025 menyajikan gambaran mengenai migrasi seumur hidup dan migrasi risen, variasi mobilitas antarprovinsi, serta karakteristik penduduk yang berpindah. Migrasi seumur hidup memberikan informasi tentang perbedaan provinsi tempat lahir dan tempat tinggal saat pendataan, sementara migrasi risen menggambarkan perpindahan dalam lima tahun terakhir.
Keduanya dapat digunakan secara berdampingan untuk memahami pola mobilitas penduduk dari sudut pandang rentang waktu yang berbeda.

Data migrasi dapat dimanfaatkan sebagai salah satu landasan dalam analisis kependudukan dan perencanaan pembangunan. Informasi mengenai persebaran migran masuk dan migran keluar membantu menggambarkan variasi mobilitas antarprovinsi, sedangkan karakteristik jenis kelamin dan pendidikan melengkapi profil penduduk yang berpindah. Dengan demikian, publikasi ini menyediakan informasi statistik yang dapat mendukung pemahaman mengenai dinamika penduduk Indonesia serta menjadi bahan pertimbangan dalam mencermati persebaran penduduk dan kebutuhan layanan di berbagai wilayah.

(Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *