Suaraupdate.com,Singkawang,Kalbar, —Direktur Perumda Air Minum Gunung Poteng Kota Singkawang, H. Suriandi, S.P., memaparkan sejumlah kendala yang menyebabkan pelayanan air bersih di beberapa wilayah Kota Singkawang belum optimal. Dalam keterangannya pada Kamis (29/10/2026), pukul 09.10 WIB, ia menjelaskan persoalan mulai dari keterbatasan air baku, kapasitas instalasi pengolahan air (IPA), hingga kemampuan jaringan pipa dalam mendistribusikan air kepada pelanggan.
Sebagai upaya meningkatkan pelayanan, Perumda Air Minum Gunung Poteng telah menyusun sejumlah program prioritas, melakukan koordinasi dengan pemerintah dan DPRD, serta menjajaki kerja sama dengan investor untuk mendukung kebutuhan pembiayaan pembangunan infrastruktur air minum.
Di tengah proses penanganan tersebut, masyarakat, khususnya pelanggan yang masih mengalami gangguan aliran air, diharapkan bersabar dan memahami berbagai keterbatasan yang ada. Meski demikian, langkah perbaikan perlu terus dilakukan secara terukur agar pelayanan air bersih dapat meningkat dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Kebutuhan Air 606,83 Liter per Detik, Produksi Baru 255,30 Liter per Detik
Berdasarkan pemetaan dan analisis teknis Perumda Air Minum Gunung Poteng, kebutuhan air bersih Kota Singkawang masih jauh di atas kapasitas produksi yang tersedia.
Dengan proyeksi jumlah penduduk sebanyak 252.069 jiwa dan target cakupan pelayanan sebesar 60 persen, kebutuhan air bersih diperkirakan mencapai 606,83 liter per detik. Sementara itu, produksi riil yang tersedia baru mencapai 255,30 liter per detik.
Dengan demikian, terdapat kesenjangan antara kebutuhan dan kapasitas produksi sebesar 351,53 liter per detik.
Saat ini, cakupan pelayanan tercatat sekitar 30,95 persen dengan jumlah pelanggan aktif sebanyak 26.876 sambungan.
Kesenjangan tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam meningkatkan pemerataan pelayanan air bersih, terutama di wilayah yang mengalami tekanan distribusi atau keterbatasan pasokan.
Penanganannya membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari peningkatan ketersediaan air baku, kapasitas pengolahan, sistem transmisi, hingga jaringan distribusi yang menyalurkan air ke rumah pelanggan.
Sejumlah Wilayah Masih Mengalami Kendala Pasokan
Perumda telah memetakan sejumlah wilayah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, antara lain Sungai Garam di Singkawang Utara, beberapa kawasan di Singkawang Barat, serta Bukit Batu dan Sungai Wie di Singkawang Tengah.
Pada wilayah pelayanan IPA 1, keterbatasan air baku dan kapasitas pengolahan menyebabkan pasokan belum mampu memenuhi kebutuhan secara optimal. Berdasarkan analisis yang disampaikan, zona tersebut mengalami kekurangan pasokan sekitar 75 liter per detik.
Sementara itu, IPA 2 mengalami kekurangan pasokan sekitar 20 liter per detik.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas produksi dan penguatan jaringan distribusi agar air dapat menjangkau pelanggan secara lebih merata.
Penanganan juga perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing zona. Sebagian wilayah menghadapi keterbatasan sumber air baku, sedangkan wilayah lainnya terkendala kapasitas instalasi pengolahan atau kemampuan jaringan pipa dalam menyalurkan air.
Potensi Air Baku Semelagi Belum Dimanfaatkan Maksimal
Di kawasan Semelagi, potensi air baku dari sungai disebut relatif melimpah. Namun, pemanfaatannya belum optimal karena keterbatasan kapasitas jaringan pipa.
Untuk mendukung peningkatan pelayanan, diperlukan tambahan instalasi pengolahan air berkapasitas 37 liter per detik serta peningkatan diameter pipa distribusi.
Di sisi lain, IPA 3 dilaporkan memiliki surplus kapasitas sekitar 60 liter per detik berdasarkan analisis Perumda. Namun, kapasitas tersebut perlu didukung jaringan transmisi dan distribusi yang memadai agar dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai kebutuhan wilayah pelayanan.
Persoalan juga terjadi pada IPA 3 Roban. Debit produksi yang sebelumnya mencapai sekitar 120 liter per detik dilaporkan menurun menjadi 70–80 liter per detik akibat kerusakan impeller pada pompa transmisi.
Pemulihan kinerja peralatan dan sistem transmisi menjadi bagian penting dalam menjaga kestabilan pasokan air kepada pelanggan.
Jaringan Pipa Menjadi Kendala Distribusi
Selain keterbatasan air baku dan kapasitas pengolahan, kondisi jaringan distribusi turut memengaruhi optimalisasi pelayanan air bersih.
Sebagian jaringan pipa distribusi yang menjadi perhatian Perumda menggunakan pipa berdiameter sekitar 150 milimeter. Dalam kondisi jaringan yang ada, kemampuan penyalurannya disebut berada pada kisaran 10–25 liter per detik, bergantung pada kondisi hidraulis dan konfigurasi jaringan.
Karena itu, peningkatan diameter pipa menjadi salah satu langkah yang dinilai penting untuk memperbesar kapasitas penyaluran air ke wilayah yang membutuhkan.
Meski demikian, pembenahan jaringan harus didasarkan pada kajian teknis agar kapasitas pipa sesuai dengan ketersediaan sumber air, kemampuan produksi instalasi pengolahan, serta kebutuhan setiap wilayah pelayanan.
Melalui penanganan yang terintegrasi, air yang tersedia diharapkan dapat disalurkan secara lebih efektif kepada pelanggan.
Sebelas Program Prioritas, Estimasi Anggaran Rp609,9 Miliar
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, Perumda Air Minum Gunung Poteng telah menyusun 11 program prioritas dengan estimasi kebutuhan biaya awal sebesar Rp609,9 miliar.
Program tersebut mencakup pembangunan dan peningkatan jaringan distribusi utama, penambahan serta peningkatan kapasitas instalasi pengolahan air, pembangunan intake, dan pengembangan fasilitas pendukung penyediaan air baku.
Perumda juga mengupayakan dukungan pembiayaan melalui sejumlah jalur, termasuk pengajuan program kepada Komisi V DPR RI, koordinasi dengan Pemerintah Kota Singkawang dan DPRD, serta penjajakan kerja sama dengan pihak swasta.
Khusus untuk program jaringan distribusi yang direncanakan memperoleh dukungan APBD secara bertahap, terdapat usulan penanganan pada 39 lokasi dengan total panjang jaringan sekitar 36,8 kilometer. Estimasi anggaran untuk program tersebut mencapai Rp32,85 miliar.
Seluruh program diharapkan menjadi bagian dari solusi jangka menengah dan panjang untuk meningkatkan kapasitas pelayanan air bersih di Kota Singkawang.
Namun, Perumda menegaskan bahwa estimasi kebutuhan biaya sebesar Rp609,9 miliar masih bersifat indikatif. Nilai tersebut masih perlu diverifikasi melalui penyusunan Detail Engineering Design (DED), Rencana Anggaran Biaya (RAB), dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS).
Dengan demikian, angka tersebut belum dapat diperlakukan sebagai nilai investasi final yang telah disepakati ataupun dana yang seluruhnya sudah tersedia.
Perumda Jajaki Kerja Sama dengan Investor
Sebagai bagian dari upaya mengatasi kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan air bersih, Perumda Air Minum Gunung Poteng juga tengah menjajaki kerja sama dengan investor.
Penjajakan ini diharapkan membuka peluang dukungan pendanaan untuk pengembangan infrastruktur, peningkatan kapasitas produksi, serta pembenahan jaringan distribusi.
Keterlibatan investor berpotensi menjadi salah satu alternatif pembiayaan, terutama untuk pembangunan infrastruktur yang membutuhkan dana besar dan tidak dapat direalisasikan sekaligus melalui anggaran perusahaan maupun pemerintah daerah.
Meski demikian, bentuk kerja sama, nilai investasi, skema pendanaan, serta jadwal pelaksanaan masih perlu dibahas dan disepakati lebih lanjut.
Kejelasan mengenai perkembangan penjajakan tersebut juga penting bagi masyarakat, termasuk informasi tentang program prioritas dan tahapan realisasi yang nantinya dapat dilaksanakan.
Bagi Perumda, dukungan pembiayaan perlu berjalan seiring dengan perencanaan teknis yang matang agar investasi yang dilakukan benar-benar menjawab persoalan pelayanan air bersih.
Direktur Imbau Pelanggan Bersabar
Direktur Perumda Air Minum Gunung Poteng Kota Singkawang, H. Suriandi, S.P., mengharapkan pengertian dan kesabaran masyarakat Kota Singkawang dan sekitarnya, khususnya pelanggan yang masih mengalami aliran air belum optimal.
Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan sejumlah kendala teknis dan keterbatasan infrastruktur yang membutuhkan penanganan secara bertahap.
Perumda terus berupaya mencari solusi melalui evaluasi teknis, penyusunan program prioritas, koordinasi dengan pemerintah dan DPRD, serta penjajakan kerja sama dengan investor.
Suriandi berharap masyarakat dapat memahami bahwa peningkatan kapasitas pelayanan membutuhkan perencanaan, dukungan pendanaan, dan pelaksanaan pembangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan air bersih yang lebih baik tetap menjadi hal penting yang harus diperhatikan dalam setiap langkah penanganan.
Karena itu, upaya perbaikan yang memungkinkan dilakukan dalam jangka pendek perlu terus dioptimalkan, sembari mempersiapkan solusi infrastruktur untuk mengatasi keterbatasan pasokan dalam jangka menengah dan panjang.
Berharap Hasil Audiensi dengan DPRD Segera Ditindaklanjuti
Sebelumnya, analisis mengenai penyebab belum optimalnya aliran air bersih telah disampaikan kepada DPRD Kota Singkawang dalam audiensi bersama Komisi II pada Senin (19/10/2026), pukul 13.30 WIB.
Dalam keterangannya, Suriandi berharap hasil analisis tersebut segera ditindaklanjuti agar menghasilkan solusi konkret.
“Harapan saya, apa yang sudah dianalisis dan disampaikan kepada DPRD Kota Singkawang dalam audiensi dengan Komisi II kemarin dapat segera menemukan solusi secepatnya, walaupun secara bertahap,” ujar Suriandi.
Menurutnya, penanganan persoalan air bersih membutuhkan koordinasi berbagai pihak, baik dalam penyediaan anggaran, pembangunan infrastruktur, maupun penetapan prioritas program.
Dukungan Pemerintah Kota Singkawang, DPRD, pemerintah pusat, dan calon mitra investasi diharapkan dapat mempercepat penanganan sesuai kewenangan dan kemampuan pembiayaan masing-masing.
Pelayanan Air Bersih Membutuhkan Perbaikan Nyata dan Berkelanjutan
Persoalan distribusi air bersih di Kota Singkawang tidak hanya berkaitan dengan jumlah air yang diproduksi, tetapi juga kemampuan sistem dalam menyalurkannya secara efektif hingga ke pelanggan.
Karena itu, peningkatan pelayanan membutuhkan langkah terpadu yang mencakup penanganan sumber air baku, peningkatan kapasitas instalasi pengolahan, perbaikan pompa, serta penguatan jaringan transmisi dan distribusi.
Penjajakan kerja sama dengan investor dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung kebutuhan pembiayaan. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada kejelasan skema kerja sama, kepastian pendanaan, kesiapan teknis, dan realisasi program di lapangan.
Masyarakat berharap upaya yang dilakukan Perumda dapat segera menunjukkan perkembangan nyata, terutama bagi pelanggan di wilayah yang selama ini mengalami kendala aliran air.
Keterbukaan informasi, komunikasi yang baik dengan pelanggan, dan pelaksanaan program yang terukur juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Perumda Air Minum Gunung Poteng diharapkan terus menyampaikan perkembangan penanganan secara berkala agar masyarakat mengetahui langkah yang sedang dilakukan serta tahapan perbaikan pelayanan yang direncanakan.
Sumber: Direktur Perumda Air Minum Gunung Poteng Kota Singkawang, H. Suriandi, S.P.
Pewarta: Ferry S.





























Komentar