oleh

Singkawang Carnaval Gotong Royong: Lampu Kuning untuk Pemimpin Oligarki

-Politik-19 Dilihat

SINGKAWANG, KALIMANTAN BARAT — 22 Agustus 2026 — Ada satu pesan kuat yang terpancar dari pelaksanaan “Singkawang Carnaval Gotong Royong”: ketika rakyat bergerak bersama, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.

Tanpa mengandalkan dana APBD dan tanpa dukungan pemerintah Kota Singkawang, agenda yang lahir dari semangat gotong royong masyarakat itu justru mampu berlangsung meriah, sukses, dan penuh sukacita.

Bagi masyarakat, keberhasilan ini bukan sekadar tentang sebuah carnaval. Ini adalah simbol keberanian rakyat untuk menunjukkan bahwa kebersamaan tidak selalu membutuhkan kekuasaan, anggaran besar, ataupun panggung pemerintahan.

Justru dari keterbatasan itulah muncul sebuah pertanyaan besar: mengapa ketika rakyat mampu bergotong royong, pemerintah yang memiliki kewenangan dan anggaran justru tidak hadir memberikan dukungan?

Jika benar sebuah kegiatan yang lahir dari inisiatif masyarakat dapat berjalan sukses tanpa sokongan APBD, maka para penguasa seyogianya tidak menutup mata. Rakyat sedang menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar objek kebijakan, bukan hanya angka dalam statistik pembangunan, dan bukan pula massa yang hanya dicari ketika momentum politik tiba.

Singkawang Carnaval Gotong Royong adalah lampu kuning.

Lampu kuning bagi siapa pun yang merasa kekuasaan adalah milik segelintir elite. Lampu kuning bagi pemimpin yang mulai berjarak dengan rakyat. Dan lampu kuning bagi mereka yang menganggap suara masyarakat dapat diabaikan begitu saja.

Namun kritik ini bukanlah seruan untuk melawan pemerintah. Sebaliknya, ini adalah peringatan demokratis agar kekuasaan kembali kepada hakikatnya: melayani rakyat.

Sebab ketika rakyat bersatu, bergotong royong, dan bergerak dengan kesadaran bersama, maka kekuasaan tidak boleh merasa paling kuat.

Pesannya sederhana, tetapi keras: jika rakyat bersatu, kekuasaan tidak boleh merasa menjadi segalanya.

Carnaval ini mungkin hanya berlangsung satu hari. Tetapi pesan yang ditinggalkannya jauh lebih panjang.
Jangan tunggu rakyat kecewa berubah menjadi perlawanan politik. Jangan tunggu lampu kuning berubah menjadi lampu merah.

Para pemimpin Kota Singkawang harus membaca momentum ini sebagai cermin: apakah pemerintah masih berjalan bersama rakyat, atau justru semakin jauh dari rakyat?

Karena pada akhirnya, jabatan memiliki batas waktu. Kekuasaan memiliki masa. Tetapi rakyat akan selalu mengingat siapa yang hadir ketika mereka membutuhkan, dan siapa yang memilih berdiri jauh ketika rakyat bergerak sendiri.

“Singkawang Carnaval Gotong Royong telah selesai digelar. Namun pesan rakyat baru saja dimulai”.

Sumber: Tim Red
Penulis/Editor: Decky Menziano

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *