Karimun, Kepulauan Riau — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program besar yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia.
Namun, di balik makanan yang sampai ke meja para siswa, ada para pekerja dapur yang juga manusia—punya tenaga yang terbatas, punya keluarga, punya hak untuk beristirahat, dan berhak diperlakukan secara layak.
Persoalannya, sejumlah pekerja SPPG/MBG di Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, mengeluhkan kondisi kerja yang mereka nilai tidak manusiawi.
Keluhan tersebut mencuat pada Selasa (25/8/2026), terutama terkait jam kerja yang disebut kerap melewati ketentuan tanpa kepastian waktu pulang.
Seorang pekerja mengungkapkan, mereka biasanya mulai bekerja sekitar pukul 04.00 WIB dan seharusnya selesai sekitar pukul 12.00 WIB. Namun, ketika pekerjaan belum rampung, mereka mengaku tidak diperbolehkan meninggalkan lokasi.
“Kami datang jam 4, balik jam 12 aturannya. Tapi kalau belum siap, mana bisa balik. Kadang satu jam atau dua jam lewat dari aturan jam kerja,” keluh seorang pekerja.
Jika persoalan tersebut benar terjadi secara berulang, maka yang patut dipertanyakan bukan sekadar panjangnya jam kerja, melainkan bagaimana sistem pengelolaan tenaga kerja di dapur MBG tersebut dijalankan.
Program sebesar MBG tidak boleh dibangun dengan mengorbankan tenaga dan martabat orang-orang yang bekerja di belakang layar.
Lebih ironis lagi, pekerja mengaku persoalan kekurangan tenaga kerja sudah dirasakan, tetapi hingga kini belum terlihat langkah tegas untuk menambah personel agar beban pekerjaan dapat dibagi secara wajar.
Jangan sampai semangat menyukseskan MBG justru berubah menjadi alasan untuk mengabaikan mereka yang bekerja keras menyukseskannya.
Makan dengan Sarung Tangan Kerja?
Keluhan lain yang jauh lebih menyentuh datang dari persoalan fasilitas makan bagi para pekerja.
Seorang pekerja mengaku mereka dilarang menggunakan piring dan gelas yang tersedia di dapur MBG. Bahkan, menurut pengakuannya, ompreng yang digunakan untuk makanan anak sekolah juga tidak diperbolehkan digunakan untuk makan oleh pekerja.
“Kalau untuk anak sekolah saja,” ujar pekerja tersebut.
Akibatnya, pekerja mengaku terkadang harus makan menggunakan talam. Bahkan, dalam kondisi tertentu, mereka menyebut pernah makan menggunakan sarung tangan kerja.
Jika pengakuan ini benar, pertanyaannya sederhana tetapi sangat mendasar:
Apakah mereka yang setiap hari menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anak justru tidak layak mendapatkan perlakuan yang manusiawi ketika mereka sendiri makan?
Mereka bukan mesin. Mereka bukan robot. Mereka adalah manusia yang sejak dini hari bekerja, mengolah makanan, membersihkan peralatan, dan memastikan program MBG berjalan.
Karena itu, persoalan ini tidak boleh dianggap sebagai keluhan kecil atau persoalan internal dapur semata.
BGN harus turun tangan. Pengawasan harus dilakukan secara nyata, bukan sekadar administratif.
Jika ditemukan pelanggaran terhadap hak dan perlakuan layak bagi pekerja, maka pihak yang bertanggung jawab harus diberikan sanksi tegas sesuai ketentuan yang berlaku. Evaluasi terhadap pengelolaan SPPG juga perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk kecukupan tenaga kerja, jam kerja, waktu istirahat, fasilitas pekerja, serta standar kesehatan dan keselamatan kerja.
Program MBG memang harus sukses.
Tetapi kesuksesan tidak boleh diukur hanya dari berapa banyak makanan yang dibagikan kepada anak sekolah. Kesuksesan juga harus dilihat dari bagaimana manusia yang bekerja di balik program itu diperlakukan.
Jangan sampai anak-anak diajarkan tentang pentingnya gizi dan kemanusiaan, sementara orang-orang yang menyiapkan makanan mereka justru bekerja dalam kondisi yang mereka rasakan tidak manusiawi.
MBG adalah program untuk rakyat. Maka jangan biarkan rakyat yang bekerja menyukseskannya justru merasa diperlakukan seperti bukan manusia.
Kini bola ada di tangan BGN dan pihak pengelola SPPG Moro: klarifikasi, perbaiki, dan bila terbukti terjadi pelanggaran, berikan sanksi.
Sebab membangun program besar tidak cukup hanya dengan anggaran dan target. Program besar membutuhkan keberpihakan kepada manusia yang menjalankannya.
Sumber: Awak Media
Penulis: Rudi
Editor: Decky Menziano



























Komentar